
Satu Jam Penyelamatan Bumi
Menyelamatkan bumi dan mengatasi permasalahan lingkungan mungkin sering dipikir sebagai sesuatu yang sulit dan memberatkan. Earth Hour, suatu aksi mematikan lampu dan peralatan elektronik yang tidak diperlukan selama satu jam, mencoba menangkis kesangsian ini.
Tahun ini, untuk pertama kalinya, Earth Hour dilakukan di Indonesia. Bersama lebih dari 2.000 kota di 80 negara, Jakarta dipilih menjadi kota pertama tempat penyelenggaraannya. Pada Sabtu, 28 Maret 2009, tepat pukul 20.30 WIB, masyarakat Jakarta akan menyaksikan dan menjadi bagian dari aksi global yang mana warga kotanya akan memadamkan lampu secara sukarela selama satu jam.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dengan dipimpin oleh Duta Earth Hour-nya, Fauzi Bowo, pada saat yang bersamaan, berpartisipasi mematikan lampu-lampu di bangunan bersejarah seperti Monumen Nasional (Monas) serta di beberapa ciri khas kota Jakarta lainnya, seperti Patung Pemuda, Jembatan Semanggi, Bundaran HI, Air Mancur Arjuna Wiwaha, dan tak terkecuali kantor gubernur Balai Kota akan dipadamkan.
Dari sejarahnya, Earth Hour dimulai di Sydney, Australia, pada 31 Maret 2007, dengan didukung oleh Pemerintah Kota Sydney dan lebih dari 2,2 juta penduduk serta 2.000 pelaku bisnis. Mereka berpartisipasi mematikan lampu dan peralatan elektronik mereka selama satu jam.
Inisiatif di kota ini berhasil menghemat energi sebesar 10,2 persen sehingga kemudian bergulir dan telah menginspirasi masyarakat dunia sampai dengan sekarang. Pada 2008, jumlah peserta Earth Hour mencapai 50 juta orang dari 370 kota di 35 negara.
Earth Hour memunyai landasan pemikiran yang sederhana. Dengan kompleksitas isu pemanasan global yang menyebabkan pemanasan bumi secara global, banyak pihak yang bertanya tentang solusi sederhana, murah, dan mudah akan permasalahan ini. Earth Hour memberikan jawaban terhadap hal ini, yaitu dengan “semudah” mematikan lampu dan peralatan elektronik yang tidak diperlukan.
Setidaknya, selama satu jam di Sabtu, 28 Maret 2009, pukul 20.30-21.30 WIB, penduduk bumi diajak secara simbolis untuk terlibat dalam Earth Hour. Hal ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa upaya penghematan energi dan penanggulangan perubahan iklim merupakan tanggung jawab bersama secara global.
Di Jakarta, kepemimpinan Gubernur Provinsi DKI Jakarta yang sekaligus bersedia menjadi Duta Earth Hour Indonesia memberikan sinyal positif sekaligus keteladanan bahwa penghematan energi dan penanggulangan perubahan iklim merupakan hal yang penting bagi Jakarta dan Indonesia. Hal ini juga dicontohkan oleh sederet pemimpin dunia lainnya seperti Archbishop Desmond Tutu, Raja Swedia, Presiden Finlandia, Wali Kota London, dan Perdana Menteri Malaysia, yang juga merupakan Duta Earth Hour.
Saat ini, dukungan terhadap Earth Hour dari masyarakat ditunjukkan dengan tercatatnya lebih dari 17.000 orang mendaftarkan diri secara on-line untuk berpartisipasi. Selain itu, sekitar lebih dari 50 pemilik/pengelola gedung di Jakarta juga mengonfirmasi kesediaan berpartisipasi. Keteladanan yang ditunjukkan Gubernur, para pemilik pemilik gedung di kawasan pusat bisnis, dan masyarakat Jakarta bisa jadi akan lebih menyemangati banyak indvidu untuk aktif berpartisipasi.
Menurut analisis yang dilakukan WWF-Indonesia, bila masyarakat Jakarta secara menyuluruh memadamkan lampu dan alat-alat elektronik yang tidak diperlukan selama satu jam, akan terjadi penghematan energi sebesar 300 MW atau sekitar satu pembangkit listrik tenaga listrik bisa diistirahatkan. Bila biaya akibat penghematan energi ini bisa dialihkan maka ada sekitar 900 desa di tempat lain di Indonesia yang bisa diterangi oleh listrik.
Sebagai tambahan, pemadaman sukarela secara menyuluruh satu jam di Jakarta dapat mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 284 ton CO2, dikarenakan penduduk Jakarta merupakan 20 persen dari konsumen listrik nasional. Tentunya bila aksi serupa dilakukan secara reguler oleh penduduk Jakarta dan dicontoh oleh banyak penduduk Indonesia, pilihan membangun yang rendah emisi karbon, yang pada gilirannya berkontribusi kepada penanggulangan perubahan iklim, menjadi sesuatu yang sangat mungkin dicapai.
Tantangan yang paling utama adalah kemudian menggunakan momentum Earth Hour 2009 ini untuk mengubah perilaku kita yang boros energi menjadi lebih hemat. Hemat energi merupakan hemat biaya, sekaligus juga menghemat subsidi sebesar lebih dari 100 triliun rupiah yang digunakan untuk mengadakan listrik di Indonesia.
Tentunya, program yang berkesinambungan antara Pemprov DKI, pemilik gedung/perkantoran, industri, dan warga masyarakat secara umum, menjadi indikator keberhasilan Jakarta sebagai kota yang nantinya lebih ramah lingkungan. Dengan komposisi pemakaian listrik penduduk rumah tangga Jakarta sebesar 33 persen, perkantoran sekitar 29 persen, dan industri sekitar 31 persen maka listrik merupakan tanggung jawab bersama
Saat ini sangat tepat bila Jakarta dan Indonesia menjadi bagian dalam gerakan untuk mengubah diri sendiri secara mendunia. Berpartisipasi dalam Earth Hour dengan mematikan lampu dan peralatan elektronik yang tidak diperlukan selama satu jam saja pada Sabtu, 28 Maret 2009, pukul 20.30-21.30 WIB, kontribusi sederhana kita akan menghasilkan dampak yang positif bagi kota kita tercinta.(Fitrian Ardiansyah, Direktur Program Iklim dan Energi WWF-Indonesia)
Sumber: Koran Jakarta
|